Dermatitis atopik merupakan gangguan inflamatorik pada kulit yang umumnya memiliki tampilan sebagai ruam merah, kering dan disertai dengan rasa gatal, serta dapat terjadi secara berulang. Penyakit ini dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa, dengan lokasi umum yang terkena diantaranya wajah, leher, lipatan siku, di belakang lutut dan pergelangan kaki. Seringkali, individu dengan dermatitis atopik memiliki riwayat atopi seperti asma dan rinitis alergi.1 Pada penyakit ini, sistem sawar kulit terganggu, sehingga kulit menjadi kering dan memudahkan debu, bakteri, virus ataupun jamur dapat dengan mudah masuk kedalam lapisan kulit dan menyebabkan inflamasi. Saat ini, penggunaan pelembab direkomendasikan sebagai penanganan dasar pada dermatitis atopik karena kemampuannya untuk menghidrasi dan memperbaiki sistem sawar kulit.2

Vaseline petroleum jelly adalah salah satu contoh oklusif yang sering digunakan, biasa dipakai tipis-tipis setelah mandi untuk melindungi kelembapan kulit supaya tidak menguap.

Berdasarkan cara kerjanya dapat dibagi menjadi 3 tipe yaitu oklusif, humektan dan emolien. Tipe oklusif sebagian besar berbahan dasar minyak, dan akan membentuk suatu lapisan eksternal pada permukaan kulit, sehingga menahan agar air tidak evaporasi dengan mudah dari kulit. Contoh bahannya diantaranya adalah petrolatum, minyak mineral, lanolin dan silikon.

Tipe humektan menghidrasi dengan cara menarik air dari lapisan kulit dalam (dermis) hingga ke permukaan kulit (epidermis), serta menarik air dari lingkungan bila kelembaban lingkungan mencapai lebih dari 70%. Bahan-bahan seperti gliserin, lactic acid, hyaluronic acid, propylene glycol, butylene glycol, panthenol, sodium PCA dan urea merupakan tipe humektan.

Cerave mengandung ceramide dan asam hyaluronat sehingga bisa berfungsi sebagai humektan dan emolien sekaligus.

Emolien, sebagian besarnya terdiri dari lipid atau lemak  yang dapat mengisi diantara keretakan pada kulit. Setelah pemakaian pada umumnya dapat memberikan hasil yang halus dan lembut dan meningkatkan fleksibilitas kulit. Contoh pelembab emolien alkohol adalah fatty acid, fatty alcohol, cholesterol, pseudoceramide. Biasanya pelembab emolien bisa ditemukan pada coconut oil, palm oil dan sebagainya.3

Khasiat pelembab sangat bergantung pada pemilihan yang tepat dan kepatuhan penggunaanya, maka itu pemilihannya perlu dilakukan secara seksama. Pelembab dengan bahan minyak alami seringkali digunakan, selain memperbaiki sawar kulit, meredakan inflamasi dan memberikan nutrisi pada kulit, sehingga kombinasi antara pelembab tipe oklusif dan emolien merupakan komposisi yang diperkirakan paling cocok.4

Terdapat berbagai bentuk pelembab yang tersedia, yaitu losion, krim, salep dan gel. Masing-masing bentuknya memiliki perbedaan pada komposisi yang menyebabkan perbedaan konsistensinya. Losion memiliki prinsip oil in water, sehingga memiliki konsistensi yang tidak berminyak, lebih tipis dan mudah diratakan pada suatu area yang luas. Biasanya losion digunakan pada area kulit yang luas, seperti wajah atau tubuh dan area berambut. Sedangkan, krim memiliki konsistensi water in oil, sehingga konsistensi nya lebih tebal jika dibandingkan dengan losion. Biasanya digunakan pada area yang tidak berambut dan di malam hari.

Salep memiliki komposisi 80% oil dan 20% air, sehingga jika diaplikasikan akan sangat berminyak dengan tampilan glossy. Salep umumnya sangat berguna di lingkungan dengan kelembaban rendah (<60%). Namun, salep jarang digunakan pada daerah lipatan kulit. Terakhir, konsistensi gel akan memberikan hasil yang tidak berminyak, non-komedogenik dan mudah diserap. Gel biasa digunakan pada daerah lipatan ataupun wajah.

Menurut para ahli di Amerika Serikat, pemilihan pelembab tergantung dari keparahan dermatitis atopik dan lokasi kulit yang terkena. Direkomendasikan krim oklusif emolien untuk derajat ringan sedang, salep oklusif emolien untuk derajat yang lebih berat dan salep oklusif tanpa komposisi air untuk derajat yang sangat berat.5 Rekomendasi pemilihan yang tepat untuk anda bisa dikonsultasikan dengan dokter spesialis kulit tempat anda kontrol ya, atau dengan konsultan alergi-imunologi terkait.

Salam sehat bermanfaat,

Stevanie Budianto S.Ked & Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI

Referensi:

1.        Sayaseng KY, Vernon P. Pathophysiology and Management of Mild to Moderate Pediatric Atopic Dermatitis. J Pediatr Heal Care [Internet]. 2018;32(2):S2–12. Available from: https://doi.org/10.1016/j.pedhc.2017.10.002

2.        Giam YC, Hebert AA, Dizon MV, Van Bever H, Tiongco-Recto M, Kim K-H, et al. A review on the role of moisturizers for atopic dermatitis. Asia Pac Allergy. 2016;6(2):120.

3.        Sethi A, Kaur T, Malhotra SK, Gambhir ML. Moisturizers: The slippery road. Indian J Dermatol. 2016;61(3):279–87.

4.        Elias PM, Wakefield JS, Man MQ. Moisturizers versus current and next-generation barrier repair therapy for the management of atopic dermatitis. Skin Pharmacol Physiol. 2018;32(1):1–7.

5.         Purnamawati S, Indrastuti N, Danarti R, Saefudin T. The role of moisturizers in addressing various kinds of dermatitis: A review. Clin Med Res. 2017;15(3–4):75–87.