Sekitar 20% individu pasti pernah mengalami ruam merah dan gatal pada kulit setidaknya sekali dalam hidup mereka, termasuk juga di antara kita. Ruam merah dan gatal ini lebih kita kenal dengan istilah biduran, atau dalam bahasa medis disebut urtikaria. Tidak semua jenis ruam merah itu disebut urtikaria. Ruam merah baru bisa disebut urtikaria bila ruam tersebut berupa bercak kemerahan (ukuran bercak bisa bervariasi dari beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter), ada peninggian kulit, dan terasa gatal.

Berdasarkan lamanya, biduran bisa digolongkan menjadi 2, yaitu biduran akut dan biduran kronis. Biduran akut adalah biduran yang hilang dalam waktu kurang dari 6 minggu, sedangkan biduran kronis adalah biduran yang berlangsung lebih dari 6 minggu. Sebagian besar biduran yang kita kenal adalah biduran akut, namun sekitar 0.5-5% individu juga dapat mengalami biduran kronis. Berdasarkan Organisasi Alergi Amerika Serikat, biduran kronis sebenarnya tidak berbahaya mengancam nyawa. Akan tetapi, rasa gatal yang terus menerus muncul pasti akan mengganggu kualitas kehidupan seseorang.

Mengapa bisa muncul biduran kronis?

Penyebab pasti terjadinya biduran kronis tidak diketahui pasti. Pada beberapa pasien, biduran kronis dapat disebabkan karena paparan lingkungan, misalnya:

  • Paparan terhadap dingin

Biduran muncul ketika tubuh mulai menghangat setelah terpapar pada air dingin atau udara dingin. Atau bisa juga muncul saat masuk ke ruangan ber-AC atau berjalan didekat kotak pendingin.

  • Perubahan suhu tubuh atau berkeringat

Biduran dapat muncul ketika individu tersebut terpapar matahari, setelah berolahraga, atau saat sedang demam. Biduran seringkali muncul berukuran kecil-kecil dan banyak diatas kulit kemerahan. Biasa muncul dalam hitungan menit.

  • Tekanan

Biduran pada telapak kaki dapat terjadi setelah membawa beban berat atau berjalan jarak jauh selama berjam-jam. Dikarenakan kulit pada telapak kaki tergolong tebal, maka biduran pada area ini dapat muncul sebagai kemerahan dan bengkak. Bisa juga dikarenakan baju yang ketat dan duduk dalam waktu yang lama. Biduran muncul setelah 4 sampai 24 jam setelah terkena paparan.

Penyebab lain dari biduran kronis adalah kondisi autoimun, seperti pada lupus eritematosus sistemik (SLE), sindroma Sjorgen, artritis reumatik, penyakit Seliak, atau tiroiditis Hashimoto.

Bagaimana cara mengatasi biduran kronis?

Bila sahabat sekalian sedang mengalami biduran yang sudah lebih dari 6 bulan tidak kunjung sembuh, langkah pertama yang harus dilakukan adalah JANGAN PANIK. Biduran yang sudah berlangsung lama cenderung tidak mengancam nyawa. Sahabat sekalian bisa mulai mengamati dan mencatat beberapa hal berikut ini:

  • Apakah kondisi saya berlangsung terus menerus?
  • Kapan pertama kali ruam merah dan gatal saya muncul?
  • Faktor apa yang kira-kira mencetuskan kondisi ruam merah dan gatal saya?
  • Faktor apa yang bisa mengurangi kondisi ruam merah dan gatal saya?

Kemudian, rencanakan kunjungan ke dokter untuk memastikan apakah benar ruam merah yang dialami sahabat sekalian memang benar termasuk urtikaria. Dokter pasti akan menanyakan hal-hal yang sudah disebutkan di atas untuk menentukan tatalaksana yang tepat untuk sahabat sekalian. Oleh karena itu, penting untuk sudah menyiapkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Sementara menunggu jadwal ke dokter, sahabat sekalian bisa menghindari pencetus ruam (apabila sudah mulai tampak apa penyebab ruam tersebut). Untuk meredakan rasa gatal dapat digunakan kompres dingin dengan menggunakan es batu yang di selimuti dengan kain (kecuali jika faktor pencetus biduran adalah dingin) atau dengan mengoleskan calamine lotion atau bedak gatal.

Nantinya, setelah kunjungan ke dokter, dokter akan membantu mengurangi gejala sahabat sekalian dengan obat-obatan. Bila memang diperlukan, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan lain. Kunci terpenting pada pengobatan biduran kronis adalah sabar karena pengobatan terhadap biduran kronis akan memerlukan waktu yang lama. Sahabat sekalian juga harus taat mengikuti anjuran dokter dan minum obat. Setiap gejala perbaikan atau perburukan selama masa pengobatan harus dicatat dan dilaporkan ke dokter saat kontrol. Sebanyak 50% individu bisa sembuh setelah 1-2 tahun, dan 80-90% individu bisa sembuh setelah 5 tahun. Meski demikian, gejala dapat kambuh kembali bila kebiasaan lama tidak dikendalikan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk dapat mengendalikan biduran kronis, lebih dari sekedar mengatasinya.

Tips lebih lanjut mengenai bagaimana cara mengendalikan inflamasi kronik yang menjadi dasar dari berbagai gangguan terkait sistem imun, termasuk urtikaria, alergi dan autoimunitas, bisa disimak lebih lanjut di kanal YouTube Interna FKUPH.

Salam sehat bermanfaat,

Caroline Desty Utama, S. Ked; Rashmeeta, S. Ked; dr. Eunike Vania Christabel; Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI

Referensi:

  1. Kayiran MA, Akdeniz N. Diagnosis and treatment of urticaria in primary care. North Clin Istanb. 2019;6(1):93-99.
  2. Antia C, Baquerizo K, Korman A, et al. Urticaria: A comprehensive review. Journal of the American Academy of Dermatology. 2018;79(4): 599–614.
  3. Zuberbier T, Aberer W, Asero R, et al. The EAACI/GA²LEN/EDF/WAO guideline for the definition, classification, diagnosis and management of urticaria. Allergy 2018; 73:1393.
  4. Antia C, Baquerizo K, et al. “Urticaria: A comprehensive review, Epidemiology, diagnosis, and work-up.” J Am Acad Dermatol. 2018;79:599-614.
  5. Antia C, Baquerizo K, et al. “Urticaria: A comprehensive review, Treatment of chronic urticaria, special populations, and disease outcomes.” J Am Acad Dermatol. 2018;79:617-33.