Alergi makanan sering kali terjadi pada anak-anak yang disebabkan oleh susu sapi, telur, kacang tanah, gandum, kacang kedelai, ikan, dan makanan laut dimana sebagian besar dikarenakan oleh faktor genetik yaitu keluarga yang memiliki riwayat alergi sebelumnya dan karena faktor lingkungan yang meningkatkan risiko terjadinya alergi. Alergi makanan mengakibatkan berbagai macam gejala mulai dari kulit, pencernaan dan saluran pernapasan.1,3,6

Pada orang-orang yang mengalami alergi makanan akan muncul gejala seperti gatal, kesemutan, bengkak pada bibir, lidah atau kulit, rasa tercekik di tenggorokan, mual, muntah, diare, sesak napas, dan nyeri perut.1,2

Cara mendiagnosis alergi makanan sama seperti mendiagnosis alergi pada umumnya yaitu dengan uji tusuk atau skin prick test dan pemeriksaan kadar IgE total terhadap jenis makanan yang spesifik. Selain itu juga bisa dilakukan oral food challenge yang bisa dilakukan oleh spesialis yang ahli dalam bidang alergi makanan.7

Untuk mengobati alergi makanan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengedukasi orang-orang dengan alergi makanan untuk menghindari alergen atau makanan yang memicu terjadinya reaksi alergi. Perlu dilakukan edukasi juga untuk melakukan pengecekan pada bahan-bahan makanan atau snack yang ingin dikonsumsi oleh penderita alergi makanan untuk memastikan bahwa makanan-makanan yang ingin dikonsumsi tidak mengandung bahan-bahan yang dapat memicu terjadinya reaksi alergi.2

Untuk reaksi alergi makanan bisa dilakukan pemberian obat antihistamin yang dijual bebas. Bila masih merasakan gejala tidak membaik, penderita bisa datang ke dokter untuk diberikan antihistamin dengan dosis yang lebih tinggi. Namun perlu diketahui juga bahwa antihistamin tidak bisa mengatasi anafilaksis, namun antihistamin bisa digunakan untuk mencegah terjadinya anafilaksis.

Selain itu juga penting untuk mengedukasi keluarga atau orang disekitar penderita alergi makanan apabila orang tersebut tanpa sengaja mengonsumsi makanan yang bisa memicu alerginya maka hal ini bisa mengakibatkan munculnya reaksi anafilaksis yang akan mengancam nyawa, maka dari itu penting untuk bisa menyuntikkan epinefrin bila sudah mulai muncul gejala anafilaksis walaupun gejala yang muncul masih tergolong ringan.5 Untuk gejala anafilaksis yang bisa muncul adalah rasa gatal dengan kemerahan, bengkak, mual, kram perut, suara serak, sesak napas, berdebar, mulut mulai membiru,6 jika memiliki gejala tersebut, segera ke IGD terdekat.

Salam sehat bermanfaat,

Michaella Janet, S. Ked; Rashmeeta, S. Ked

Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI

Referensi

1. Sicherer SH, Sampson HA. 9. Food allergy. Journal of allergy and clinical immunology. 2006 Feb 1;117(2):S470-5.

2. O’Keefe AW, De Schryver S, Mill J, Mill C, Dery A, Ben-Shoshan M. Diagnosis and management of food allergies: new and emerging options: a systematic review. Journal of asthma and allergy. 2014;7:141.

3. Oyoshi MK, Oettgen HC, Chatila TA, Geha RS, Bryce PJ. Food allergy: insights into etiology, prevention, and treatment provided by murine models. Journal of allergy and clinical immunology. 2014 Feb 1;133(2):309-17.

4. Licari A, Manti S, Marseglia A, Brambilla I, Votto M, Castagnoli R, Leonardi S, Marseglia GL. Food Allergies: Current and future treatments. Medicina. 2019 May;55(5):120.

5. Wright BL, Walkner M, Vickery BP, Gupta RS. Clinical management of food allergy. Pediatric Clinics. 2015 Dec 1;62(6):1409-24.

6. Ring J, Beyer K, Biedermann T, Bircher A, Duda D, Fischer J, Friedrichs F, Fuchs T, Gieler U, Jakob T, Klimek L. Guideline for acute therapy and management of anaphylaxis. Allergo journal international. 2014 May 1;23(3):96-112.

7. Abrams EM, Sicherer SH. Diagnosis and management of food allergy. Cmaj. 2016 Oct 18;188(15):1087-93.