Apa itu Artritis Reumatik?

Artritis reumatik (AR) merupakan salah satu penyakit akibat proses autoimun dengan inflamasi kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan. AR ditandai dengan pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi jaringan sinovial yang disertai gangguan pergerakan diikuti dengan kematian dini1,2. Penyakit ini bisa mengenai kedua jenis kelamin walaupun lebih sering pada wanita, terutama usia produktif2,3.Prevalensi penyakit ini bervariasi pada berbagai populasi di dunia, namun data di Indonesia menunjukkan peningkatan jumlah pasien yang didiagnosis sebagai AR2. Telah diketahui bahwa AR adalah penyakit kronik dan fluktuatif sehingga apabila tidak dilakukan penanganan yang tepat dan cepat akan menyebabkan kerusakan sendi yang progresif, deformitas, disabilitas, dan kematian.

Apa peranan olahraga pada RA?

Selain dari pemberian obat-obatan seperti DMARD (Disease-Modifying Anti-Rheumatic Drugs), kortikosteroid dan OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid), telah direkomendasikan juga untuk dilakukan latihan fisik termasuk olahraga aerobik. Namun, olahraga yang dilakukan harus disesuaikan secara individual berdasarkan kondisi penyakit dan komorbiditas yang ada2.Olahraga berfungsi untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsi pada orang yang menderita AR. Selain itu, olahraga dapat membantu mencegah penumpukan jaringan parut, yang dapat menyebabkan kelemahan dan kekakuan.

Prinsip Pemanasan, Penguatan dan Pengkondisian pada RA

Apa prinsip olahraga pada RA?

Latihan untuk artritis memiliki tiga bentuk: pemanasan, penguatan otot, dan pengkondisian4,5. Pemanasan melibatkan pergerakan otot dan sendi sedikit di luar ruang gerak normal, dilakukan dengan bertahan pada posisi tersebut setidaknya selama 15 hingga 30 detik dan dilakukan sebanyak 2 hingga 4 kali untuk setiap ekstremitas. Jika posisi pemanasan tidak nyaman, cobalah untuk setidaknya menggerakkan setiap sendi sepenuhnya setiap hari.

Penguatan melibatkan menggerakkan otot yang dapat melawan suatu hambatan. Latihan penguatan membantu orang yang menderita AR agar tetap lebih aktif dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Terdapat dua jenis latihan penguatan: 4,5

  • Jika penderita AR memiliki persendian yang bengkak, maka dapat melakukan latihan isometrik5. Penguatan isometrik hanyalah menahan otot di satu tempat tanpa menggerakkan sendi4,5. Latihan jenis ini dapat dilakukan sebanyak 8 hingga 12 kali untuk setiap anggota gerak tubuh. Perlu dilakukan istirahat selama 1 menit sebelum melanjutkan pada ekstremitas sebelahnya4.
  • Jika persendian tidak bengkak, maka dapat dilakukan latihan isotonik. Penguatan isotonik berarti menggerakkan sendi melalui ruang gerak normal yang melawan resistensi seperti angkat beban4-6. Latihan tersebut dilakukan sebanyak 8 hingga 12 kali. Harus dilakukan istirahat selama 1 menit sebelum melanjutkan dengan latihan lainnya4. Penderita AR dapat mengangkat beban selama 30 hingga 60 menit dalam sehari, sebanyak 2 hingga 3 kali dalam seminggu untuk meningkatkan kekuatan otot6.

Latihan pengkondisian meningkatkan kebugaran secara aerobik. Latihan aerobik dapat membantu mengurangi rasa sakit dan membantu agar tetap lebih aktif4. Latihan pengkondisian, atau aerobik, termasuk berjalan kaki, bersepeda atau berenang4-6. Olahraga aerobik dianjurkan untuk dilakukan selama 45 hingga 60 menit dalam sehari sebanyak 2 hingga 3 kali dalam seminggu6.

  • Jalan kaki: Jalan setiap hari adalah cara mudah untuk masuk ke dalam rutinitas olahraga dan dapat dimulai dengan berjalan secara lambat dan jarak pendek jika masih seorang pemula dalam hal olahraga. Kemudian dapat diusahakan untuk berjalan lebih lama dan lebih cepat ketika sudah mulai kuat. Harus dipastikan juga untuk melakukan pemanasan sebelum memulai dan setelah selesai dengan konsumsi air putih yang cukup5.
  • Bersepeda: Bersepeda pada satu tempat menghilangkan risiko terjatuh dan dapat dimulai secara perlahan jika masih seorang pemula, dan lakukan lebih cepat saat sudah menjadi lebih baik5.
  • Berenang: Olahraga air dapat mengurangi beban pada persendian. Latihan ini juga dapat meningkatkan detak jantung. Karena air berfungsi sebagai perlawanan terhadap otot, maka dapat membuat otot lebih kuat. Dapat digunakkan juga beban air untuk melatih otot lagi5.

Diskusi lanjut dengan Dokter Imun

Jadwal konsultasi praktek Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI dapat dilihat pada link ini. Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI secara langsung. Follow akun twitter saya di @dokterimun_id, Instagram di @dokterimun.id atau facebook page di Dokter Imun untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa. Jangan lupa juga dengarkan podcast Bina Imun untuk mendengarkan rekaman terkini membahas mengenai imunitas, bisa didengarkan di Spotify, Apple Podcast dan Google Podcast.

Referensi

  1. Mcinnes IB, Schett G. The Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis. N Engl J Med. 2011;365(23):2205–19.
  2. Diagnosis dan Pengelolaan Artritis Reumatoid. Perhimpunan Reumatologi Indonesia; 2014.
  3. Papana A, Meng SJ, Wei YX, Wang W, Ruth M, Page C, et al. Prevalence of rheumatoid arthritis in low – and middle – income countries : A systematic review and analysis. J Glob Heal. 2015;5(1).
  4. IQWiG. Exercise and sports for rheumatoid arthritis [Internet]. Institute for Quality and Efficiency in Health Care. 2020. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK384465/#_NBK384465_pubdet_
  5. Poinier AC. Exercise for Rheumatoid Arthritis [Internet]. Michigan Medicine-University of Michigan. 2019. Available from: https://www.uofmhealth.org/health-library/uh1283 6.         Nazario B. RA: Exercises That Are Easy On Your Joints [Internet]. WebMD LLC. 2019. Available from: https://www.webmd.com/rheumatoid-arthritis/gentle-ra-exercises