Konjungtivitis alergi merupakan respon peradangan akibat alergi yang paling sering terjadi pada mata, dan cenderung tidak menurunkan ketajaman penglihatan, tetapi dapat mengganggu kegiatan sehari-hari. Konjungtivitis alergi dikarenakan oleh pemaparan alergen, sehingga cara mengobatinya adalah dengan menghindari kontak terhadap alergen dan mengurangi inflamasi yang sudah terjadi, dan disertai dengan perawatan untuk gejala sehingga gejalanya membaik.1

Cara menghindari kontak terhadap alergen harus didahului dengan mengenali penyebab utama dari konjungtivitis alergi yang terjadi. Bagi mereka yang menggunakan lensa kontak disarankan untuk menggantinya dengan kacamata. Penggunaan kacamata hitam yang lebar disarankan untuk menghindari aeroallergen dan untuk mengurangi gejala kesilauan.3 Pasien sangat tidak disarankan untuk mengucek mata karena dapat menyebabkan perburukan gejala.2 Selain itu, akan diberikan air mata buatan atau cairan saline yang berguna untuk mencuci alergen yang masih menempel pada mata, dan juga menggunakan kompres dingin untuk membuat pembuluh darah mata menyempit.2,3

Obat-obat yang dapat digunakan untuk menangani konjungtivitis alergi terdiri dari beberapa golongan, dan pemberiannya dipertimbangkan berdasarkan tingkat keparahan gejala, toleransi pasien terhadap obat, dan adanya gejala alergi lain yang menyertai. Apabila gejala alergi yang terjadi terbatas hanya pada mata, maka disarankan untuk menggunakan obat tetes karena kerjanya lebih cepat dibandingkan obat minum akan berefek cukup luas terhadap tubuh.2,3 Pada gejala ringan, disarankan untuk memberikan obat tetes bergolongan anti histamine seperti levocabastine atau emedastine, atau mast cell stabilizer seperti lodoxamide 0,1%, nedocromil 2%, sodium cromoglycate 2% ataupun 4%, dan asam spaglumat 4%. Antihistamin juga dapat diberikan lewat semprotan hidung (nasal) ataupun obat minum (oral). Antihistamin nasal direkomendasikan apabila konjungtivitis alergi terjadi bersamaan dengan gejala rhinitis alergi. Antihistamin oral yang digunakan adalah golongan generasi kedua (cetirizine, desloratadine, levocetirizine, loratadine, ebastine, fexofenadine, dan lain-lain) dan juga disarankan untuk dikombinasi dengan obat tetes apabila hendak diberikan. Evaluasi dari terapi ini dilakukan dalam batas waktu satu bulan. Apabila tidak terjadi perbaikan, maka akan diberikan obat tetes dual-action agent yang merupakan kombinasi dari obat mast cell stabilizer sekaligus obat golongan H2 reseptor antagonis selektif, seperti olopatadine atau ketotifen yang disarankan untuk digunakan setiap 12 jam sekali. Terapi ini harus dilanjutkan hingga 1 bulan.3,4

Apabila terdapat gejala yang berat hingga terjadi gangguan penglihatan disertai dengan terganggunya kegiatan sehari-hari (termasuk pekerjaan/sekolah), maka dipertimbangkan untuk pemberian obat tetes kortikosteroid. Obat ini hanya dapat diresepkan oleh spesialis mata, dan pemberiannya pasti dibarengi dengan obat-obat lain yang sudah disebutkan sebelumnya, karena kortikosteroid merupakan obat dengan efek yang “keras”. Obat tetes steroid terbagi menjadi dua berdasarkan potensinya, yaitu untuk inflamasi berat seperti dexamethasone, betamethasone,  dan prednisolone, atau obat tetes soft corticosteroids yang sudah dapat dipertimbangkan untuk diberikan bahkan sebelum gejala menjadi terlalu berat (medrysone, loteprednolol, fluorometholone, rimexolone).1,3,4

Terapi lain yang dapat dipertimbangkan adalah obat-obatan vasokonstriktor atau penipisan pembuluh darah. Obat golongan ini dapat mengurangi kemerahan pada mata, namun dengan jangka kerja yang singkat dan efekivitas yang kurang baik apabila kemerahan pada konjungtivitis alergi disertai gejala lain. NSAID seperti sodium diklofenak 0,1% ataupun ketorolac 0,5% juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa gatal pada konjungtivitis alergi, tetapi golongan obat ini tidak dapat mengurangi bengkak secara signifikan. Leukotriene receptor antagonist seperti montelukast dan kortikosteroid nasal dapat digunakan apabila konjungtivitis alergi terjadi bersamaan dengan rhinitis alergi, tetapi obat ini memiliki onset kerja yang lambat sehingga tidak dapat menjadi pilihan untuk terapi pilihan pertama. Pada kasus berkelanjutan, dipertimbangkan pemberian imunoterapi spesifik seperti antibodi dapat mengakibatkan desensitisasi terhadap alergen, sehingga apabila digunakan rutin seperti untuk alergi musiman atau untuk pasien-pasien yang tidak memiliki refrakter dari obat-obat yang sebelumnya sudah dicantumkan, imunoterapi merupakan terapi yang baik. Tetapi, selain karena ketersediaannya yang kurang memadai dan juga kurangnya penelitian mengenai efektivitasnya terhadap konjungtivitis alergi, maka imunoterapi seringkali dipertimbangkan sebagai pilihan terakhir.1,3

Diskusi lanjut dengan Dokter Imun

Jadwal konsultasi praktek Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI dapat dilihat pada link ini. Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI secara langsung. Follow akun twitter saya di @dokterimun_id, Instagram di @dokterimun.id atau facebook page di Dokter Imun untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa. Jangan lupa juga dengarkan podcast Bina Imun untuk mendengarkan rekaman terkini membahas mengenai imunitas, bisa didengarkan di Spotify, Apple Podcast dan Google Podcast.

Salam sehat,

Jennifer Anggawan, S.Ked; dr. Rashmeeta

Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, Sp.PD, K-AI

Referensi

  1. Carr W, Schaeffer J, Donnenfeld E. Treating Allergic Conjunctivitis: A Once-daily Medication that Provides 24-hour Symptom Relief. Allergy & Rhinology. 2016;7(2).
  2. Baab S, Le P, Kinzer E. Allergic Conjunctivitis [Internet]. StatPearls [Internet]. U.S. National Library of Medicine; 2021
  3. Sánchez-Hernández MC. Consensus document on allergic conjunctivitis (DECA) [Internet]. Journal of investigational allergology & clinical immunology. U.S. National Library of Medicine; 2015
  4. Dupuis P, et al A contemporary look at allergic conjunctivitis. Allergy, Asthma & Clinical Immunology. 2020;16(1).