Fibromialgia merupakan suatu penyakit kronis yang dapat dialami siapapun pada beragam usia. Namun, dari beberapa laporan kasus, wanita dan kelompok usia 30-50 tahun cenderung lebih sering mengalami penyakit tersebut.1 Penyakit ini memiliki beberapa gejala seperti adanya nyeri seluruh tubuh dengan sensasi nyeri tumpul, terbakar, atau ditusuk-tusuk yang dapat berlangsung terus menerus hingga 3 bulan lamanya. Gejala fibromyalgia sering dikaitkan dengan bagian tubuh tertentu yang sensitif terhadap sentuhan atau trigger points or tender points.2,3 Selain itu, kualitas tidur pasien dapat menurun hingga menyebabkan kelelahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari penderita. Seseorang dapat memiliki tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas dan tingkat stres yang dialami penderita.1

Menurut The American College of Rheumatology dan US National Institute of Health fibromialgia merupakan suatu kelainan yang melibatkan sistem saraf pusat akibat gangguan biologis saraf yang dapat menyebabkan masalah fungsi kognitif serta nyeri fisiologis.4 Akan tetapi, hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kondisi tersebut meskipun sudah terdapat berbagai teori. Oleh karena itu, mendiagnosis fibromialgia sendiri merupakan suatu tantangan untuk seorang klinisi yang dapat memakan waktu. Namun, dapat diduga beberapa faktor pemicu atau faktor risiko kondisi ini antara lain; usia 30-50 tahun, jenis kelamin wanita memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami fibromialgia yang dapat terkait hormonal, trauma fisik atau emosional, seperti cidera, operasi, infeksi, atau mengidap PTSD (post-traumatic stress disorder) akibat kejadian traumatis.1,3 Peran senyawa kimia dalam otak yang tidak seimbang, seperti keseimbangan serotonin atau dopamine hingga abnormalitas kadar senyawa sistem saraf pusat. Faktor-faktor sebelumnya mempengaruhi sistem inflamasi hingga menyebabkan reaksi sistemik hingga menjadi lebih sensitif terhadap sinyal-sinyal rasa sakit. Penyakit inflamatori atau peradangan lainnya seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau osteoarthritis dapat memperberat kondisi penderita fibromialgia.1,3,4

Pada penjelasan sebelumnya pemicu atau factor yang memperberat gejala fibromialgia adalah terjadinya peradangan atau inflamasi.2,3 Kondisi tersebut dapat berasal dari stress, trauma, riwayat penyakit inflamatori hingga asupan sehari-hari. Mengapa demikian? Terdapat beberapa makanan yang dapat menimbulkan peradangan atau gejala flare pada penderita fibromialgia.3,5 Contohnya beragam roti, kue, pastry lainnya terdiri atas karbohidrat refinasi (Refined Carbs). Karbohidrat tersebut diproses lebih cepat oleh sistem pencernaan hingga membuat glukosa naik secara spontan dan menimbulkan gejala nyeri terutama keluhan saluran pencernaan.6,7 Jenis minyak sayuran (vegetable oils) yang biasa dijumpai pada suplemen kolesterol atau makanan goreng-gorengan berupa corn oil, safflower oil hingga kacang-kacangan pada produk minuman tinggi protein dari kombinasi kacang kedelai, polong, dan biji gandum dapat memicu gejala fibromialgia. Beberapa suplemen susu berbentuk bubuk mengandung bahan tersebut.3,7 Selain itu, konsumsi alkohol dan kafein hingga suplemen para atlet atau yang sedang menjalani program diet dalam menurunkan berat badan dapat mengandung kafein yang membuat proses peradangan kembali. Beberapa vitamin terutama vitamin anak yang chewable seringkali dibuat manis dan mengandung pemanis buatan yaitu aspartame. Aspartame dapat memanggil sel-sel inflamatorik dan menyerang sistem imun.3,6,7 Selain makanan, mengatur pola stress dari mendapatkan tidur yang cukup, berolahraga teratur dapat menghindari kekambuhan gejala fibromialgia.2,8 Oleh karena itu, salah satu kunci terapi atau pengobatan penderita fibromialgia saat ini dengan mengatur gaya hidup yang sehat.

Diskusi lanjut dengan Dokter Imun

Jadwal konsultasi praktek Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI dapat dilihat pada link ini. Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI secara langsung. Follow akun twitter saya di @dokterimun_id, Instagram di @dokterimun.id atau facebook page di Dokter Imun untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa. Jangan lupa juga dengarkan podcast Bina Imun untuk mendengarkan rekaman terkini membahas mengenai imunitas, bisa didengarkan di Spotify, Apple Podcast dan Google Podcast.

Salam sehat bermanfaat,

Cindy Monika Agatha Barus, S.Ked; dr. Rashmeeta

Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, Sp.PD, K-AI

Referensi

1.        Bhargava J, Hurley JA. Fibromyalgia. StatPearls [Internet]. 2021 Jul 10

2.        Vincent A, Whipple MO, Rhudy LM. Fibromyalgia Flares: A Qualitative Analysis. Pain Med [Internet]. 2016 Mar 1;17(3):463–8. Available from: https://academic.oup.com/painmedicine/article/17/3/463/1888231

3.        Siracusa R, Paola R Di, Cuzzocrea S, Impellizzeri D. Fibromyalgia: Pathogenesis, Mechanisms, Diagnosis and Treatment Options Update. Int J Mol Sci [Internet]. 2021 Apr 2;22(8). Available from: /pmc/articles/PMC8068842/

4.        Fibromyalgia [Internet]. [cited 2021 Jul 31].

5.        Lattanzio SM, Imbesi F. Fibromyalgia Syndrome: A Case Report on Controlled Remission of Symptoms by a Dietary Strategy. Front Med [Internet]. 2018 Apr 1;5(APR):94. Available from: /pmc/articles/PMC5936760/

6.        Morris S, Li Y, Smith JAM, Dube’ S, Burbridge C, Symonds T. Multidimensional daily diary of fatigue–fibromyalgia–17 items (MDF-fibro-17). part 1: development and content validity. BMC Musculoskelet Disord [Internet]. 2017 May 16;18(1). Available from: /pmc/articles/PMC5434627/

7.        Lowry E, Marley J, McVeigh JG, McSorley E, Allsopp P, Kerr D. Dietary Interventions in the Management of Fibromyalgia: A Systematic Review and Best-Evidence Synthesis. Nutrients [Internet]. 2020 Sep 1;12(9):1–18. Available from: /pmc/articles/PMC7551150/

8.        Keskindag B, Karaaziz M. The association between pain and sleep in fibromyalgia. Saudi Med J [Internet]. 2017 May 1 [cited 2021 Jul 30];38(5):465. Available from: /pmc/articles/PMC5447206/