Uveitis merupakan proses inflamasi yang terjadi pada uvea, lapisan berisi pembuluh darah pada mata. Uveitis sering ditemukan pada populasi dewasa muda dengan usia rata-rata 35 tahun.  Penyebab uveitis terbagi menjadi infeksi dan non-infeksi. Uveitis yang disebabkan oleh non-infeksi disebabkan oleh autoimun. Uveitis autoimun sendiri ditemukan pada sebagian kasus uveitis yang merupakan penyebab utama dari gangguan penglihatan dan berperan dalam 10-15% penyebab kebutaan. Pada uveitis autoimun, kerusakan jaringan pada uvea disebabkan oleh stimulasi sel T antigen spesifik dan/atau autoantibodi. Gejala atau manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada pasien dengan uveitis autoimun adalah kemerahan pada mata, nyeri pada mata, pandangan buram, skotoma, fotofobia, dan penurunan ketajaman visual. Komplikasi yang dapat terjadi pada orang dengan uveitis autoimun adalah glaukoma, katarak, dan kebutaan. 

Pengobatan lini pertama untuk uveitis adalah kortikosteroid yang merupakan anti-inflamasi. Akan tetapi, kekurangan dari pengobatan dengan kortikosteroid dosis tinggi adalah terhambatnya absorbsi kalsium dari konsumsi makanan, menghambat respon kalsitonin sehingga menyebabkan gangguan pada tulang. Pasien yang mengonsumsi obat kortikosteroid, terutama pada uveitis, direkomendasikan untuk menjaga pola hidup sehat seperti berolahraga, konsumsi kalsium 1200-1500 mg/hari dan vitamin D 800-1000 UI/hari.1 

Selain pengobatan, terapi untuk uveitis autoimun dapat dimulai dengan konsumsi nutrisi dari makanan yang dikonsumsi oleh pasien sehari-hari. Pada kondisi autoimun, sama halnya dengan obat yang digunakan untuk terapi, makanan yang dikonsumsi juga direkomendasikan untuk mengandung manfaat anti-inflamasi. Makanan yang termasuk dalam makanan anti-inflamasi adalah sayur-sayuran seperti bayam, buah-buahan seperti stroberi, buah ceri, jeruk, minyak zaitun, tomat, kacang-kacangan seperti kacang almond, dan ikan seperti salmon, tuna, dan sarden.  Makanan yang mengandung asam lemak omega-3 juga membantu dalam menekan inflamasi pada uveitis autoimun. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ikan salmon adalah salah satu sumber makanan yang mengandung asam lemak omega-3.2,3 

Selain itu, makanan tertentu, seperti makanan yang mengandung gluten juga merupakan salah satu pencetus inflamasi pada uveitis autoimun. Contohnya adalah gandum, roti, sereal, pasta, dan makanan dengan kandungan tepung lainnya. Pasien dengan uveitis autoimun juga disarankan untuk menghindari makanan olahan, makanan tinggi garam, minyak, mentega, gula, dan produk hewani.2,3 

Antioksidan juga merupakan salah satu terapi yang dapat digunakan pada kasus uveitis. Hal ini dikarenakan salah satunya penyebab uveitis adalah peningkatan stres oksidatif yang menyebabkan proses inflamasi. Contoh dari antioksidan yang mencegah uveitis adalah ekstrak aronia, ekstrak blue honeysuckle, curcumin, green tea, ekstrak Ginkgo biloba, ekstrak Berberis aristate, vitamin B1, vitamin C, vitamin E, astaxanthin, fucoxanthin, dan lutein.2 

Vitamin adalah salah satu antioksidan yang mencegah uveitis, dimana vitamin sendiri sangat berperan dalam kesehatan tubuh manusia dan pada berbagai penyakit. Vitamin A, C, dan E membantu mencegah terjadinya inflamasi pada mata. Contoh dari makanan yang mengandung vitamin A adalah ubi, wortel, labu, mangga, pepaya, telur, dan hati ikan. Untuk makanan yang mengandung vitamin C adalah buah-buahan sitrus, kiwi, mangga, dan sayuran seperti brokoli dan tomat. Makanan yang mengandung vitamin E adalah minyak kelapa, kacang, hazelnut, biji bunga matahari, kacang almond, buah kiwi, tomat, sayur bayam, brokoli, dan mangga. Mangga adalah salah satu makanan yang kaya akan vitamin A, C, dan E.2 

Dalam penyakit autoimun, terutama dalam kasus uveitis autoimun yang terjadi karena proses inflamasi pada mata, salah satu yang cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara menekan inflamasi. Oleh karena itu, terapi yang diberikan, mulai dari obat-obatan hingga makanan bertujuan untuk dapat membantu mengurangi inflamasi yang terjadi. Makanan dan hal-hal pencetus inflamasi dihindari untuk mencegah terjadinya progesivitas penyakit dan inflamasi yang memburuk agar mencegah komplikasi, salah satunya adalah kebutaan. Menjaga pola hidup sehat, konsumsi makanan bebas gluten, konsumsi buah dan sayur yang kaya akan antioksidan serta vitamin, dan juga kalsium sangat bermanfaat pada pasien-pasien autoimun. Selain itu, olahraga secara rutin dan tidur yang cukup juga direkomendasikan untuk para penyintas autoimun.

Diskusi lanjut dengan Dokter Imun

Jadwal konsultasi praktek Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI dapat dilihat pada link ini. Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI secara langsung. Follow akun twitter saya di @dokterimun_id, Instagram di @dokterimun.id atau facebook page di Dokter Imun untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa. Jangan lupa juga dengarkan podcast Bina Imun untuk mendengarkan rekaman terkini membahas mengenai imunitas, bisa didengarkan di Spotify, Apple Podcast dan Google Podcast.

Salam sehat bermanfaat, 

Yoriska, S. Ked; Rashmeeta, S. Ked 

Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI 

Referensi 

1. Sitompul R. Diagnosis dan Penatalaksanaan Uveitis dalam Upaya Mencegah Kebutaan. eJournal Kedokteran Indonesia. 2016 Jun 23;4(1).  

2. Leech B, McEwen B, Sekyere EO. Diet, Digestive Health, and Autoimmunity: The Foundations to an Autoimmune Disease Food Pyramid – Part 2. Alternative and Complementary Therapies. 2020 Aug 1;26(4):158–67.  

3. Shoda H, Yanai R, Yoshimura T, Nagai T, Kimura K, Sobrin L, et al. Dietary omega-3 fatty acids suppress experimental autoimmune uveitis in association with inhibition of Th1 and Th17 cell function. PLoS ONE. 2015 Sep 22;10(9).