Spondilitis ankilosa (SA) merupakan penyakit jaringan ikat yang ditandai dengan peradangan pada tulang belakang dan persendian. SA terjadi secara berkepanjangan, bersifat menyeluruh dan menyebabkan kekakuan yang semakin parah. Penyebab dari SA belum diketahui dengan jelas, tetapi tampaknya dipengaruhi komponen genetik dan sistem kekebalan tubuh. Prevalensi spondilitis ankilosis antara pria dan wanita berbanding 2:1 hingga 3:11,2. SA biasanya muncul pada dekade kedua atau ketiga pada kehidupan2.

Pada SA peradangan ringan sampai menengah biasanya bergantian dengan periode tanpa gejala1. Peradangan ini menyebabkan nyeri dan lama kelamaan ruas-ruas tulang belakang menyatu (fusion) seperti layaknya dahan pohon bambu (bamboo spine) yang dapat dilihat pada foto rongen tulang belakang jika sudah lama2. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri punggung, yang intensitasnya bervariasi dari satu episode ke episode lainnya dan bervariasi pada setiap penderita. Terdapat juga nyeri sering memburuk di malam hari, kekakuan di pagi hari yang akan hilang jika penderita melakukan aktivitas, nyeri punggung dan kejang otot-ototnya yang seringkali bisa berkurang jika penderita membungkukkan badannya ke depan.

Karena itu penderita sering mengambil posisi membungkuk, yang bisa menyebabkan bungkuk menetap bila tidak diobati. Tulang belakang dengan jelas tampak lurus dan kaku. Nyeri punggung bisa disertai dengan hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan dan kelemahan. Kadang-kadang nyeri dimulai di sendi yang besar, seperti panggul, lutut dan bahu1. Penegakkan diagnosis dapat dilakukan berdasarkan pola gejala-gejalanya dan foto rontgen dari tulang belakang dan sendi yang terkena. Karena SA merupakan penyakit dengan komponen genetik, maka pada 90% penderita dapat ditemukan juga suatu gen yang disebut dengan HLA-B271,3.

Tujuan terapi utama dari SA adalah untuk mengurangi inflamasi, mengurangi gejala, memelihara postur tubuh, mengurangi batasan fungsional dan mengurangi komplikasi dari penyakit tersebut seperti gangguan ekspansi rongga dada serta gangguan lainnya5. Penanganan SA mencakup pemberian pengobatan OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid) dan fisioterapi. Fisioterapi mempunyai peranan terhadap manajemen SA namun tidak dapat menggantikan pengobatan. Tujuan utama fisioterapi pada SA dengan menggunakan gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif adalah untuk memperbaiki mobiltas dan kekuatan serta mencegah atau menurunkan terjadinya abnormalitas kurva tulang belakang6. Namun American College of Rheumatology lebih merekomendasikan latihan fisik secara aktif (dengan pengawasan) dibandingkan dengan secara pasif (pijat, USG atau pemberian panas) 5.

Latihan fisik penting dilakukan karena pada SA sering terjadi kelainan berupa fleksi tulang belakang. Oleh karena itu, otot-otot ekstensor tulang belakang harus diperkuat. Manuver lain yang perlu dilakukan adalah bernapas dalam dan gerakan fleksi pada tulang belakang bagian lumbal. Posisi postur tubuh harus diperhatikan setiap saat. Kursi dengan sandaran yang keras dianjurkan, tetapi diutamakan lebih banyak berjalan dari pada duduk6. Selain dari latihan fleksibilitas tulang belakang, perlu dilakukan juga latihan fisik dalam bentuk pemanasan, latihan aerobik dan latihan penguatan otot.

Pemanasan melibatkan pergerakan otot dan persendian melalui beberapa gerakan sedikit di luar ruang gerak normal. Latihan ini sangat penting dalam kondisi SA karena penderita cenderung membatasi gerakan dan penggunaan suatu daerah tubuh ketika terdapat nyeri, bengkak, dan/atau kekakuan di sekitar sendi, seperti saat ada peradangan aktif. Kurangnya gerakan dapat menyebabkan hilangnya mobilitas dan meningkatkan risiko fusi sendi. Oleh karena itu, disarankan agar pemanasan dilakukan setiap hari untuk semua sendi yang kaku atau berpotensi menjadi kaku. Pemanasan sebaiknya dilakukan selama minimal 20 menit dalam sehari7. Berikut merupakan beberapa contoh latihan pemanasan dan yang dapat dilakukan dirumah8.

Contoh latihan pemanasan dan peregangan yang dapat dilakukan secara rutin di rumah.

Latihan aerobik terdiri dari olahraga seperti berenang atau berjalan kaki yang dilakukan untuk jangka waktu berkelanjutan yang meningkatkan fungsi jantung dan paru-paru serta kesehatan secara keseluruhan. Studi menunjukkan bahwa penderita SA yang melakukan latihan aerobik memiliki fungsi pernapasan, daya tahan, dan suasana hati yang lebih baik, dan lebih sedikit merasa sakit, dan kelelahan dibandingkan orang yang tidak berolahraga7. Rekomendasi latihan fisik saat ini termasuk melakukan latihan aerobik selama 60 menit dalam sehari untuk 5 hari dalam seminggu9. Prinsip Olahraga yang Aman dan Efektif untuk Penyintas Autoimun (AI)

Latihan penguatan otot melibatkan menggunakan otot untuk bergerak atau menahan suatu beban, bertujuan untuk meningkatkan kinerja otot yang membantu bergerak secara efisien dan aman serta mendukung postur tubuh yang baik. Beberapa otot yang paling penting untuk diperkuat pada SA adalah otot-otot inti, yaitu otot perut dan punggung untuk menopang tulang belakang. Memiliki otot-otot inti yang kuat terbukti dapat mengurangi tekanan pada tulang belakang sehingga dapat meminimalkan nyeri punggung. Orang yang menderita nyeri punggung akibat SA biasanya mengubah postur tubuh untuk mengurangi rasa sakit. Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan postur tubuh ini dapat menyebabkan kekakuan dan kelemahan otot dan persendian, serta nyeri yang bertambah. Dengan demikian, penguatan otot-otot inti adalah kunci untuk menangani nyeri punggung. Latihan penguatan harus dilakukan 2 hingga 4 kali setiap minggu untuk mendapatkan hasil terbaik7.

Penderita dianjurkan setiap saat tegak, seolah-olah tumit, bokong, pundak, bahu, dan belakang kepala selalu bersandar pada dinding. Penderita SA dianjurkan juga untuk tidur terlentang menggunakan kasur yang agak keras dengan sebuah bantal tipis. Menggunakan bantal yang tebal atau beberapa bantal sebaiknya dihindari. Pada pagi hari, mandi air hangat, diikuti latihan fisik untuk penguatan otot-otot belakang. Hal ini sebaiknya dilakukan di rumah secara teratur. Tidur tengkurap selama beberapa menit dilakukan beberapa kali dalam sehari merupakan tindakan yang bermanfaat dalam menjaga pergerakan tulang belakang6.

Diskusi lanjut dengan Dokter Imun

Jadwal konsultasi praktek Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI dapat dilihat pada link ini. Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI secara langsung. Follow akun twitter saya di @dokterimun_id, Instagram di @dokterimun.id atau facebook page di Dokter Imun untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa. Jangan lupa juga dengarkan podcast Bina Imun untuk mendengarkan rekaman terkini membahas mengenai imunitas, bisa didengarkan di Spotify, Apple Podcast dan Google Podcast.

Salam sehat bermanfaat,

Rashmeeta, S.Ked
Dr. dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD, K-AI

Referensi

  1. Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Loscalzo J. Harrison’s principles of internal medicine. New York: McGraw-Hill Education; 2018.
  2. Sieper J, Braun J, Rudwaleit M, Boonen A, Zink A. Ankylosing spondylitis: an overview. Annals of the Rheumatic Diseases. 2002;61(Supplement 3):8iii–18.
  3. Braun JR, Bollow M, Remlinger G, Eggens U, Rudwaleit M, Distler A, et al. Prevalence of spondylarthropathies in HLA-B27 positive and negative blood donors. Arthritis & Rheumatism. 1998;41(1):58–67.
  4. Ankylosing spondylitis – Genetics Home Reference – NIH [Internet]. U.S. National Library of Medicine. National Institutes of Health; Available from: https://ghr.nlm.nih.gov/condition/ankylosing-spondylitis
  5. Ward MM, Deodhar A, Akl EA, Lui A, Ermann J, Gensler LS, et al. American College of Rheumatology/Spondylitis Association of America/Spondyloarthritis Research and Treatment Network 2015 Recommendations for the Treatment of Ankylosing Spondylitis and Nonradiographic Axial Spondyloarthritis. Arthritis & Rheumatology. 2015;68(2).
  6. Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Stiyohadi B, Syam AF. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: InternaPublishing. 2014.
  7. Spondyloarthritis and Exercise [Internet]. Available from: https://spondylitis.org/about-spondylitis/treatment-information/exercise/
  8. Ince G, Sarpel T, Durgun B, Erdogan S. Effects of a Multimodal Exercise Program for People With Ankylosing Spondylitis. Physical Therapy. 2006;86(7):924–35.
  9. Ozgocmen S, Akgul O, Altay Z, Altindag O, Baysal O, Calis M, et al. Expert opinion and key recommendations for the physical therapy and rehabilitation of patients with ankylosing spondylitis. International Journal of Rheumatic Diseases. 2011;15(3):229–38.
  10. Research findings: exercise for ankylosing spondylitis [Internet]. The Chartered Society of Physiotherapy. Available from: https://www.csp.org.uk/frontline/article/research-findings-exercise-ankylosing-spondylitis